You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Adiarsa
Logo Desa Adiarsa
Adiarsa

Kec. Kertanegara, Kab. Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

Carilah Kekayaan Materi di Gunung Kawi

BAYU ROHANI 28 Juli 2026 Dibaca 13 Kali
Carilah Kekayaan Materi di Gunung Kawi

"Ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Harga kebutuhan pokok terus naik, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, sementara impian hidup sejahtera tidak pernah ikut turun. Dalam keadaan seperti ini, mungkin ada satu saran yang terdengar menarik: jika ingin kaya, pergilah ke Gunung Kawi."

Kalimat itu sengaja saya tulis di awal karena itulah yang selama ini hidup di benak sebagian masyarakat Indonesia. Gunung Kawi di Kabupaten Malang sering kali hanya dikenal sebagai tempat pesugihan. Buku-buku misteri, cerita dari mulut ke mulut, tayangan televisi, film horor, hingga konten YouTube membuat satu nama ini identik dengan kekayaan instan dan ritual mistis.

Namun sebelum benar-benar berangkat ke sana, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan.

Sejak kapan Gunung Kawi dikenal sebagai tempat mencari kekayaan?

Pertanyaan itu membawa kita mundur ribuan tahun ke masa ketika kerajaan-kerajaan besar berdiri di Pulau Jawa.

Ketika Gunung Kawi Menjadi Pusat Ilmu Pengetahuan

Jauh sebelum masyarakat mengenal istilah pesugihan, Gunung Kawi telah memiliki kedudukan penting dalam kehidupan intelektual masyarakat Jawa.

Melalui naskah Tantu Panggelaran, diketahui bahwa kawasan Gunung Kawi merupakan lokasi berdirinya sejumlah kadewaguruan, yakni lembaga pendidikan tempat para pendeta, cendekiawan, dan calon pemimpin menimba ilmu. Di bawah aliran Kesturi Genting yang dipimpin Ki Buyut Genting, setidaknya terdapat lima pusat pembelajaran di kawasan tersebut.

Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa masa kini, Gunung Kawi pada zamannya lebih menyerupai sebuah kampus daripada tempat mencari kekayaan gaib.

Para pelajar mempelajari astronomi, sastra, pawukon, filsafat, tata negara, hingga berbagai ilmu keagamaan. Keberadaan kawasan pendidikan ini juga diperkuat oleh Prasasti Selobrojo dan Prasasti Merjosari yang menunjukkan eksistensi mandala, yaitu kawasan pendidikan dan pembinaan spiritual pada masa Jawa Kuno.

Bahkan dalam Nagarakretagama, istilah kawi memiliki hubungan erat dengan dunia sastra dan kepujanggaan. Seorang kawi bukan sekadar penyair, tetapi intelektual yang dihormati karena keluasan ilmunya. Sementara dalam Tantu Panggelaran, istilah tersebut berkaitan dengan kawikun, yaitu proses menjadi seorang wiku atau rohaniwan.

Dengan kata lain, jauh sebelum orang datang mencari kekayaan, Gunung Kawi telah lebih dahulu menjadi tempat orang mencari pengetahuan.

Selain menjadi pusat pendidikan, berbagai naskah kuno juga menggambarkan Gunung Kawi sebagai kawasan suaka. Tempat yang tenang untuk belajar, bertapa, dan mencari kebijaksanaan ketika dunia di luar sedang dipenuhi konflik politik.

Tradisi Belajar Berlanjut di Masa Islam

Memasuki abad ke-19, lanskap budaya Gunung Kawi mengalami perubahan. Kerajaan Hindu-Buddha telah berganti, Islam berkembang di berbagai wilayah Jawa, namun tradisi belajar tidak ikut menghilang.

Penemuan berbagai manuskrip berhuruf Arab Pegon berbahasa Jawa, mulai dari kitab fikih, Serat Pawukon, Serat Menak, hingga Serat Imam Sujana menunjukkan bahwa kawasan ini tetap menjadi ruang berkembangnya literasi.

Pada masa inilah hadir dua tokoh penting, Kiai Zakaria I atau Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono, dua pengikut Pangeran Diponegoro yang kemudian menetap di kawasan Gunung Kawi setelah berakhirnya Perang Diponegoro.

Keduanya dikenal sebagai pribadi yang bijaksana, dekat dengan masyarakat, dan menjadi tempat bertanya berbagai persoalan kehidupan. Setelah wafat, makam mereka dihormati oleh masyarakat yang datang untuk mendoakan sekaligus berharap memperoleh keberkahan atau ngalap berkah.

Tradisi ziarah ini merupakan bagian dari budaya yang telah lama hidup di Nusantara. Pada tahap ini, Gunung Kawi masih dikenal sebagai tempat mengenang jasa para tokoh, bukan sebagai tempat memperoleh kekayaan secara instan.

Bagaimana Gunung Kawi Berubah Makna?

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.

Setelah wafatnya Eyang Jugo pada tahun 1871 dan Raden Mas Imam Sujono pada tahun 1876, jumlah peziarah semakin meningkat. Memasuki dekade 1930-an, mulai beredar kisah-kisah mengenai orang yang sembuh dari penyakit, usahanya berkembang, atau memperoleh keberuntungan setelah berziarah.

Cerita itu menyebar melalui getok tular.

Seseorang menceritakan pengalamannya.

Orang lain mengulanginya.

Kemudian cerita itu dipercaya sebagai kenyataan.

Lama-kelamaan muncul berbagai narasi baru mengenai Pohon Dewandaru, ramalan Ciamsi, hingga kisah-kisah ritual pesugihan yang kini jauh lebih dikenal dibanding sejarah panjang Gunung Kawi sendiri.

Di sinilah antropologi budaya membantu kita memahami sebuah fenomena.

Sosiolog Peter L. Berger menjelaskan bahwa realitas sosial dibangun melalui tiga tahap: eksternalisasi, ketika cerita mulai diciptakan; objektivasi, ketika cerita diulang hingga dianggap sebagai kenyataan; dan internalisasi, ketika generasi berikutnya menerima cerita tersebut sebagai sesuatu yang memang benar.

Proses itulah yang tampaknya terjadi pada Gunung Kawi.

Gunungnya tidak berubah.

Yang berubah adalah makna yang diberikan manusia terhadap gunung itu.

Identitas yang Tertutup oleh Satu Cerita

Hari ini, ketika seseorang menyebut Gunung Kawi, sebagian besar masyarakat langsung membayangkan pesugihan.

Padahal, narasi itu hanyalah satu lapisan dari sejarah Gunung Kawi yang panjang.

Di balik cerita-cerita mistis yang populer, tersimpan sejarah tentang pusat pendidikan Jawa Kuno, tradisi literasi Islam, penghormatan kepada tokoh-tokoh agama, serta perjumpaan berbagai budaya yang hidup berdampingan selama berabad-abad.

Banyak warga dan pengelola kawasan Gunung Kawi kini berupaya memperkenalkan kembali sejarah tersebut melalui kegiatan budaya, pelestarian situs, dan edukasi kepada pengunjung. Tujuannya bukan menghapus cerita yang telah berkembang di masyarakat, melainkan mengingatkan bahwa identitas Gunung Kawi jauh lebih luas daripada satu stigma yang selama ini mendominasinya.

Tidak semua tempat berubah karena sejarah.

Sebagian tempat berubah karena cerita yang terus-menerus diulang.

Mungkin Gunung Kawi adalah salah satunya.

Kekayaan yang Sebenarnya

Ada satu ironi yang menarik untuk direnungkan.

Ribuan tahun yang lalu, orang datang ke Gunung Kawi untuk belajar. Mereka mendaki lereng gunung demi mempelajari astronomi, sastra, filsafat, dan berbagai ilmu yang dianggap mampu memperbaiki kehidupan.

Hari ini, sebagian orang datang dengan harapan memperoleh kekayaan tanpa harus melalui proses belajar.

Yang berubah bukan Gunung Kawinya.

Yang berubah adalah orientasi manusia.

Padahal hampir seluruh kemajuan peradaban lahir dari ilmu pengetahuan.

Petani menghasilkan panen lebih baik karena pengetahuan.

Pedagang membangun usaha karena pengetahuan.

Insinyur membangun jembatan karena pengetahuan.

Dokter menyembuhkan penyakit karena pengetahuan.

Peradaban tidak dibangun oleh jalan pintas.

Peradaban dibangun oleh orang-orang yang terus belajar.

Mungkin selama ini kita keliru memahami hubungan antara ilmu dan kekayaan. Kita mengira pengetahuan hanyalah salah satu jalan menuju kemakmuran. Padahal sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya.

Kekayaan sering kali hanyalah akibat dari pengetahuan dan wawasan yang luas.

Kalau benar sebuah gunung bisa membuat seseorang kaya hanya karena didatanginya, mungkin gunung terbaik untuk dikunjungi adalah Gunung Everest di Himalaya. Bukankah itu gunung tertinggi di dunia? Logikanya, semakin tinggi gunungnya, semakin besar pula peluang menjadi miliarder.

Untungnya sejarah tidak bekerja seperti itu.

Sejarah justru memperlihatkan bahwa Gunung Kawi pernah melahirkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada mitos kekayaan instan.

Ia melahirkan tradisi belajar.

Ia melahirkan tradisi literasi.

Ia melahirkan penghormatan kepada ilmu pengetahuan.

Maka judul artikel ini sebenarnya tidak pernah berbohong.

Carilah kekayaan materi di Gunung Kawi.

Tetapi carilah dengan cara yang sama seperti orang-orang berabad-abad yang lalu melakukannya.

Belajar.

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan