You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Adiarsa
Desa Adiarsa

Kec. Kertanegara, Kab. Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

ADIARSA MAJU

The Missing Middle

BAYU ROHANI 08 Januari 2026 Dibaca 147 Kali
The Missing Middle

Di sebuah kelas, hampir mustahil seorang guru tidak mengenal semua muridnya. Namun waktu bekerja dengan cara yang berbeda. Bertahun-tahun setelah kelulusan, ingatan sering kali hanya menyisakan beberapa nama: murid yang paling pintar, paling bandel, paling menonjol, atau paling bermasalah. Sementara murid yang “biasa saja”—tidak terlalu cemerlang, tidak pula merepotkan—perlahan memudar dari ingatan. Padahal, merekalah mayoritas yang membuat kelas itu berjalan normal.

Fenomena serupa terjadi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Ada kelompok yang selalu terlihat dan dibicarakan: mereka yang sangat kaya, berpengaruh, dan terlindungi. Ada pula kelompok yang jelas masuk kategori rentan dan secara formal berhak atas bantuan. Di antara keduanya, terdapat kelompok besar yang jarang disorot, jarang dibela, dan sering dianggap “baik-baik saja”. Inilah yang disebut sebagai the missing middle—kelas menengah yang keberadaannya penting, tetapi sering luput dari perhatian.

Tidak ada yang salah dengan menjadi “biasa saja”. Dalam hidup, tidak semua orang harus mencolok atau memiliki keunikan ekstrem. Namun persoalannya, kelompok yang dianggap biasa ini justru memikul beban paling besar. Mereka adalah tulang punggung keluarga, penggerak ekonomi harian, pembayar pajak, sekaligus penopang stabilitas sosial. Kehadiran mereka terasa sunyi, tetapi absennya mereka—dalam bentuk kejatuhan ekonomi atau sosial—akan langsung mengguncang banyak hal.

Sejarah dan pernyataan para pemimpin sering mengakui pentingnya kelompok penyangga. Bung Karno menyebut petani sebagai penyangga tatanan negara Indonesia, sebuah pengakuan atas peran vital mereka. Namun dalam praktik, kebijakan yang lahir kerap tidak berpihak, bahkan kadang justru melemahkan. Hal serupa juga diakui secara terbuka oleh para pembuat kebijakan ekonomi modern. Menteri Keuangan Purbaya pernah menegaskan bahwa kelas menengah memiliki peran sangat penting dalam ekonomi nasional, tetapi berada pada posisi yang rawan jatuh dan minim perlindungan darurat yang konkret.

Di sinilah kegelisahan itu muncul. Ada pengakuan tentang pentingnya peran, tetapi tidak selalu diikuti oleh perlindungan yang memadai. Kelas menengah bukan kelompok yang bisa dengan mudah mengakses bantuan sosial, tetapi juga tidak memiliki bantalan kuat seperti kelas atas. Satu guncangan—sakit, kehilangan pekerjaan, gagal panen, atau musibah keluarga—dapat mengubah posisi mereka secara drastis.

Ancaman yang mengintai the missing middle sering kali tidak datang dalam bentuk besar dan dramatis, melainkan akumulasi dari hal-hal yang tampak sepele: gaya hidup yang naik tanpa perlindungan, ketergantungan pada satu sumber penghasilan, literasi keuangan yang terbatas, serta godaan keputusan cepat seperti perjudian online yang menjanjikan jalan pintas. Di negara dengan sistem perlindungan yang belum solid, kesalahan kecil bisa berakibat panjang.

Karena itu, artikel ini bukan hanya kritik satu arah kepada sistem, tetapi juga ajakan kesadaran kepada kelas menengah itu sendiri. Menjadi sadar adalah langkah pertama. Menyadari bahwa tidak semua risiko bisa dialihkan ke negara. Menyadari bahwa bertahan sering kali lebih penting daripada terlihat sukses. Dalam kerangka The Psychology of Money, ada hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan: mengambil risiko yang tidak perlu, hidup melampaui kemampuan, bergantung pada keberuntungan, atau mencari solusi instan yang justru mempercepat kejatuhan.

Sebaliknya, ada hal-hal sederhana namun krusial yang bisa dilakukan: menjaga pengeluaran tetap rasional, membangun cadangan darurat meski kecil, mendiversifikasi sumber penghasilan secara realistis, serta membuat pilihan sadar dalam konsumsi. Kita bisa memilih toko yang menyediakan barang murah dan berkualitas. Dalam kehidupan bernegara, pilihan itu sering kali tidak tersedia. Maka kesadaran pribadi menjadi ruang kebebasan terakhir yang bisa dijaga.

Solusi yang ditawarkan kepada the missing middle tidak harus heroik atau ekstrem. Ia tidak menjanjikan lonjakan kelas secara instan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: ketahanan. Ketahanan untuk tidak mudah jatuh, ketahanan untuk tetap berdiri ketika sistem belum sepenuhnya hadir, dan ketahanan untuk menjaga keluarga tetap berjalan meski dunia tidak selalu adil.

Pada akhirnya, the missing middle mirip murid yang “biasa saja” tadi. Mereka jarang disebut, jarang dipuji, tetapi kelas tidak akan berjalan tanpa mereka. Nilai mereka sering baru terasa ketika sesuatu terjadi—ketika mereka jatuh, ketika mereka tidak lagi mampu menopang, atau ketika jumlah mereka menyusut.

Menyadari keberadaan mereka, memahami kerentanannya, dan memperkuat ketahanannya bukan hanya kepentingan individu, tetapi kepentingan bersama. Karena di sanalah, di kelompok yang sering luput dari sorotan itulah, stabilitas sebuah masyarakat sebenarnya bertumpu.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image