Pemerintah Desa Adiarsa terus berupaya menghadirkan pelayanan publik yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga edukatif. Salah satu langkah kecil namun bermakna tersebut diwujudkan melalui hadirnya Pojok Baca di Balai Desa Adiarsa.
Pojok baca ini berlokasi di ruang pelayanan administrasi, sebuah ruang yang setiap hari dikunjungi warga untuk berbagai keperluan. Penempatan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah desa ingin menghadirkan literasi di ruang yang hidup, dekat dengan aktivitas warga, dan mudah diakses oleh siapa pun, tanpa sekat dan tanpa syarat.
Fasilitas pojok baca ini dibangun menggunakan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp5.000.000, yang dialokasikan untuk pengadaan rak buku dan sejumlah koleksi bacaan awal. Kehadirannya menjadi simbol bahwa pembangunan desa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari upaya menumbuhkan minat baca, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat.
Rak buku yang saat ini masih menyisakan banyak ruang kosong bukanlah pertanda kekurangan, melainkan ruang harapan dan pertumbuhan. Ruang kosong tersebut menjadi penanda bahwa pojok baca ini bersifat terbuka dan partisipatif. Pemerintah Desa Adiarsa dengan tangan terbuka menerima hibah buku dari siapa pun yang ingin turut berkontribusi—baik warga desa, perantau, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi.
Dalam sejarah bangsa, membaca selalu memiliki posisi yang istimewa. Mohammad Hatta pernah menyampaikan bahwa ia rela dipenjara asalkan tetap bersama buku, karena dari buku lah kebebasan berpikir tumbuh. Pernyataan ini menegaskan bahwa buku bukan sekadar kumpulan kertas, melainkan jendela pengetahuan dan alat pembebasan pikiran.
Nilai membaca juga tertanam kuat dalam ajaran agama. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah iqra—bacalah. Sebuah pesan mendasar bahwa perubahan, kemajuan, dan peradaban dimulai dari membaca, memahami, dan merenung. Dalam konteks desa, pojok baca ini menjadi pengingat bahwa kemajuan masyarakat tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan anggaran, tetapi juga melalui budaya belajar yang berkelanjutan.
Pojok baca Balai Desa Adiarsa diharapkan menjadi ruang singgah yang bermakna: tempat menunggu sambil membaca, tempat anak-anak melihat buku sebagai hal yang dekat, dan tempat warga menemukan pengetahuan baru, sekecil apa pun. Dari langkah sederhana inilah, benih-benih literasi ditanam, untuk tumbuh bersama desa.
Pemerintah Desa Adiarsa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga, memanfaatkan, dan bila berkenan, ikut mengisi pojok baca ini. Karena desa yang kuat bukan hanya desa yang membangun jalan dan gedung, tetapi desa yang memberi ruang bagi warganya untuk terus belajar dan berpikir.