Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini dengan berbagai cara. Lagu “Ibu Kita Kartini” kembali dinyanyikan, dan pakaian adat dikenakan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan beliau. Suasana ini tentu menjadi bagian dari tradisi yang patut dijaga.
Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang seringkali luput dari perhatian kita bersama: pemikiran Kartini itu sendiri.
Raden Ajeng Kartini tidak hanya dikenang sebagai simbol perjuangan, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan warisan berharga melalui tulisan-tulisannya. Surat-surat yang beliau kirimkan kepada sahabatnya di Eropa kemudian dihimpun oleh J.H. Abendanon dalam buku berbahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht. Buku tersebut kemudian dikenal luas di Indonesia setelah diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, salah satunya melalui peran sastrawan Armijn Pane.
Melalui surat-surat tersebut, Kartini banyak berbicara tentang pentingnya pendidikan, terutama bagi perempuan. Ia tidak memandang perempuan sebagai pesaing laki-laki, melainkan sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi. Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
(Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)
Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa Kartini memandang pendidikan sebagai kunci utama kemajuan masyarakat. Ia menyadari bahwa perubahan tidak selalu mudah, terutama ketika berhadapan dengan pola pikir yang masih kaku. Namun demikian, Kartini tetap menyampaikan gagasannya dengan cara yang bijak, tanpa meninggalkan nilai-nilai penghormatan terhadap lingkungan dan keluarganya.
Seringkali, pemikiran yang melampaui zamannya tidak langsung diterima, bahkan dapat menimbulkan penolakan. Namun justru dari keberanian berpikir seperti itulah perubahan perlahan dimulai.
Jika kita renungkan, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. Dalam lingkungan masyarakat, termasuk di desa, perbedaan cara pandang antara generasi yang lebih tua dan generasi muda masih sering terjadi. Yang satu memiliki pengalaman, sementara yang lain membawa gagasan baru.
Perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disatukan. Karena kemajuan tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan dari kerja sama, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling mendengar.
Semangat Kartini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang keberanian untuk melangkah ke depan dan memberi manfaat bagi banyak orang. Seperti yang ia tuliskan dalam salah satu suratnya:
“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi… Pergilah! Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi.”
(Surat Kartini untuk Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)
Hari Kartini seharusnya tidak hanya berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa kemajuan dimulai dari pemikiran, dari keberanian untuk belajar, dan dari kesediaan untuk membuka diri terhadap perubahan.
Pemerintah Desa Adiarsa mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya mengenang Kartini melalui simbol, tetapi juga meneladani semangatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Sudahkah kita membaca pemikiran Kartini yang sesungguhnya?