Beberapa waktu terakhir ramai pernyataan bahwa warga desa tidak memakai dollar. Pernyataan itu memang benar. Warga desa membeli beras memakai rupiah, membeli pupuk memakai rupiah, dan membayar kebutuhan sehari-hari juga memakai rupiah. Bahkan di Indonesia, penggunaan mata uang resmi memang diatur oleh negara, dan transaksi menggunakan mata uang asing secara sembarangan juga bisa melanggar aturan.
Jadi benar, warga desa memang tidak membawa dollar di saku mereka.
Tetapi ada satu hal yang sering luput dipahami: meskipun warga desa tidak memegang dollar, dampak melemahnya rupiah tetap bisa masuk ke dapur mereka.
Harga pupuk naik, BBM naik, harga pakan naik, biaya produksi naik, bahan bangunan naik. Ujungnya tetap dirasakan masyarakat desa. Artinya, terkadang sesuatu yang terlihat sederhana di permukaan ternyata memiliki dampak yang jauh lebih dalam di kehidupan rakyat.
Dan mungkin di situlah pentingnya memilih pemimpin.
Karena pemimpin yang baik bukan hanya pandai melihat apa yang tampak di depan mata, tetapi juga memahami dampak yang dirasakan masyarakat.
Sebentar lagi desa-desa akan menghadapi Pilkades. Seperti biasanya, akan ada banyak senyum, banyak janji, banyak pendekatan, dan banyak kata-kata manis. Itu hal yang wajar dalam politik.
Namun sebagai warga, kita juga harus mulai belajar membedakan antara orang yang pandai mengambil hati dengan orang yang benar-benar mampu memimpin desa.
Di desa, sering kali penilaian terhadap calon masih memakai “korupen”, rasa cocok, firasat, atau bahkan dari tampilan fisik.
“Kayaknya orangnya cocok.”
“Korupen wonge teyeng.”
“Perawakane pas.”
“Kalau ketemu murah senyum.”
Semua itu memang baik. Tetapi kepala desa bukan hanya soal siapa yang paling ramah.
Kepala desa harus berani mengambil keputusan.
Harus mampu mendengarkan warga tanpa mudah berubah arah.
Harus memiliki ketegasan.
Harus memahami kebutuhan desa, bukan hanya kebutuhan pencitraan.
Karena dalam kenyataannya, ada orang yang baik secara pribadi tetapi tidak mampu memimpin. Ada juga orang yang pandai berbicara, tetapi bingung ketika harus menyelesaikan masalah.
Maka saat mendengar janji kampanye, warga jangan hanya terpukau oleh hasil akhirnya. Tanyakan juga caranya.
Kalau ada janji:
“desa akan maju,” tanyakan bagaimana caranya.
Kalau ada janji:
“petani akan diperhatikan,” tanyakan programnya apa.
Kalau ada janji:
“pemuda akan diberdayakan,” tanyakan langkah nyatanya bagaimana.
Jangan sampai kita memilih hanya karena perasaan sesaat, lalu menyesal selama bertahun-tahun.
Karena Pilkades bukan keputusan untuk satu minggu atau satu bulan. Sekali memilih, desa harus berjalan bersama pemimpin itu selama 8 tahun.
Delapan tahun bukan waktu sebentar.
Dalam waktu selama itu, anak kecil bisa tumbuh besar, jalan desa bisa tetap rusak atau justru berkembang, pertanian bisa semakin maju atau semakin tertinggal, dan pemuda desa bisa mendapatkan peluang atau kehilangan harapan.
Jika salah memilih, yang merasakan dampaknya bukan hanya satu orang, tetapi seluruh desa.
Karena itu, jangan jadikan Pilkades hanya soal rasa suka, kedekatan pribadi, atau siapa yang paling pandai mengambil hati masyarakat.
Gunakan hati, tetapi jangan tinggalkan akal sehat.
Karena pada akhirnya, pemimpin desa lahir dari rakyatnya sendiri.
Kalau rakyat memilih hanya berdasarkan rasa suka, kedekatan, atau janji manis, maka jangan heran jika yang lahir adalah kepemimpinan yang juga hanya penuh pencitraan.
Tetapi jika rakyat mulai kritis, mulai berani bertanya, dan mulai menilai dengan akal sehat, maka desa juga punya peluang melahirkan pemimpin yang benar-benar bekerja untuk masyarakat.
Sebab masa depan desa bukan ditentukan oleh siapa yang paling pandai berkampanye, tetapi oleh seberapa bijak rakyat memilih pemimpinnya