Bagaimana rasanya menjadi orang yang berada di bawah kepemimpinan kita?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi mungkin jarang kita ajukan ketika membicarakan kepemimpinan. Kita lebih sering membicarakan target, strategi, hasil, disiplin, dan pencapaian. Kita bertanya apakah sebuah organisasi berhasil mencapai tujuannya, tetapi jarang bertanya bagaimana perasaan orang-orang yang harus bekerja untuk mencapainya.
Dalam Leaders Eat Last, Simon Sinek mengajak kita melihat kepemimpinan dari sisi yang berbeda. Bukan hanya tentang bagaimana seorang pemimpin mengarahkan orang, tetapi tentang bagaimana ia menciptakan lingkungan tempat orang-orang yang dipimpinnya merasa aman.
Perlindungan dari atas
Dalam setiap organisasi terdapat perbedaan kekuasaan. Ada orang yang memiliki jabatan lebih tinggi, kewenangan lebih besar, dan kemampuan mengambil keputusan yang tidak dimiliki orang lain. Mereka yang berada di bawah memiliki ruang gerak yang lebih terbatas dan sering kali harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang dibuat di atas mereka.
Menurut Sinek, posisi tersebut membawa tanggung jawab. Ketika seseorang berada di atas, salah satu tugas pentingnya adalah memberikan perlindungan kepada orang-orang di bawahnya. Bukan berarti pemimpin harus menghilangkan semua masalah atau selalu membela bawahannya. Perlindungan yang dimaksud adalah menciptakan rasa aman: bahwa ketika keadaan menjadi sulit, orang-orang tahu bahwa mereka tidak sendirian dan ada seseorang yang bersedia mengambil tanggung jawab.
Perbedaannya dapat terlihat ketika sesuatu berjalan buruk. Dalam organisasi yang penuh ketakutan, orang akan sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Kesalahan disembunyikan, masalah tidak segera dilaporkan, dan orang belajar mengatakan apa yang aman untuk didengar oleh pemimpin. Akhirnya, pemimpin justru kehilangan informasi yang paling ia butuhkan.
Sebaliknya, dalam lingkungan yang aman, seseorang dapat mengatakan, “Ini tidak berjalan dengan baik,” tanpa langsung merasa bahwa kariernya terancam. Kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan, tetapi kesalahan dapat dibicarakan untuk mencari penyebab dan perbaikan. Rasa aman bukan berarti tidak ada standar. Justru karena merasa aman, orang lebih mungkin menghadapi kenyataan.
Bawahan juga manusia
Di sinilah gagasan kedua menjadi penting: orang-orang di dalam organisasi bukan sekadar sumber daya.
Ketika seseorang datang bekerja, ia tidak meninggalkan kehidupannya di depan pintu. Ia membawa keluarga, persoalan pribadi, harapan, kekhawatiran, kelelahan, dan kebutuhan untuk dihargai. Ia memang menjalankan sebuah pekerjaan, tetapi ia tetap seorang manusia.
Kita sering mengatakan bahwa manusia adalah aset organisasi. Kalimat itu terdengar positif, tetapi tetap ada bahaya ketika manusia hanya dilihat dari nilai yang dapat diberikannya kepada organisasi. Ketika produktif, ia dianggap berharga. Ketika gagal memenuhi target, ia dianggap sebagai masalah.
Padahal manusia tidak sesederhana angka produktivitas.
Orang juga membutuhkan kepercayaan, hubungan, penghargaan, rasa memiliki, dan perasaan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan memiliki arti. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut diabaikan, organisasi mungkin masih dapat memaksa orang bekerja, tetapi sulit membangun hubungan yang menghasilkan kepercayaan dan loyalitas dalam jangka panjang.
Pemimpin tidak harus menjadi orang yang menyenangkan
Memberikan rasa aman juga tidak berarti menjadi pemimpin yang lembek. Seorang pemimpin tetap harus mampu memberikan kritik, menetapkan standar, meminta pertanggungjawaban, dan mengambil keputusan yang tidak menyenangkan.
Yang membedakan adalah lingkungan yang diciptakannya.
Dalam lingkungan yang aman, kritik dapat dipahami sebagai bagian dari perbaikan. Dalam lingkungan yang penuh ketakutan, kritik terasa seperti ancaman. Dalam lingkungan yang sehat, orang dapat mengatakan bahwa sebuah keputusan keliru tanpa harus takut dipermalukan. Dan ketika standar tidak terpenuhi, seseorang dapat diminta bertanggung jawab tanpa kehilangan martabatnya sebagai manusia.
Mungkin karena itu, kepemimpinan bukan sekadar kemampuan membuat orang mengikuti perintah. Pemimpin yang baik menciptakan kondisi agar orang dapat memberikan kemampuan terbaiknya tanpa harus terus-menerus menggunakan energi untuk melindungi diri sendiri.
Pemimpin makan terakhir
Judul buku Sinek, Leaders Eat Last, berasal dari gambaran sederhana tentang pemimpin yang mendahulukan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Ini bukan semata-mata tentang makanan. Ia adalah metafora tentang prioritas.
Ketika keadaan sulit, siapa yang pertama kali memikirkan dirinya sendiri? Dan siapa yang pertama kali memikirkan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya?
Pemimpin tetap manusia. Ia juga memiliki kebutuhan, ambisi, dan kepentingan. Tetapi semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula dampak keputusannya terhadap kehidupan orang lain. Karena itu, jabatan tidak hanya memberikan hak untuk memimpin. Ia juga memberikan tanggung jawab untuk melindungi.
Mungkin kita dapat membedakan atasan dan pemimpin dari cara mereka melihat orang lain.
Atasan berpikir, “Mereka bekerja untuk saya.”
Pemimpin berpikir, “Saya bertanggung jawab atas mereka.”
Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi konsekuensinya sangat besar.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang ke mana kita membawa orang lain, tetapi juga bagaimana rasanya berjalan bersama kita.
Sebab mungkin ukuran kepemimpinan yang paling sederhana bukanlah seberapa banyak orang yang berhasil kita perintah, melainkan apakah orang-orang yang bekerja bersama kita menjadi lebih aman, lebih percaya diri, dan lebih mampu berkembang karena pernah berada di bawah kepemimpinan kita.
Dan mungkin itulah makna paling dalam dari pemimpin makan terakhir: bukan tentang siapa yang benar-benar mendapatkan makanan terakhir, melainkan tentang kesediaan untuk menempatkan tanggung jawab terhadap orang lain di atas kenyamanan diri sendiri.