Di Desa Adiarsa, hujan terakhir turun pada 12 Juni 2026. Hari ini, 28 September, sudah lebih dari tiga bulan langit tidak memberikan cukup air untuk mengembalikan kehidupan seperti semula.
Tiga bulan mungkin terdengar singkat jika dibandingkan dengan perjalanan waktu manusia. Namun bagi sebuah desa, tiga bulan tanpa hujan cukup untuk mengubah banyak hal.
Hal yang paling mudah dilihat adalah air.
Sungai yang selama ini menjadi salah satu sumber kehidupan mulai menyusut. Bagi petani yang mengandalkan air sungai untuk menunjang pertanian, perubahan itu terasa secara langsung. Sawah yang biasanya menjadi hamparan hijau kini tidak banyak menyisakan warna tersebut. Yang bertahan justru rumput-rumput yang mulai mengering.
Di rumah-rumah, persoalannya berbeda tetapi tidak kalah penting. Sumur yang menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari ikut terdampak di sebagian tempat. Ketika persediaan air mulai terbatas, manusia terpaksa kembali kepada pertanyaan yang sangat sederhana: air yang ada harus digunakan untuk apa?
Air minum tentu menjadi prioritas. Mandi tetap diperlukan, mencuci pakaian dapat dikurangi atau ditunda, sementara kebutuhan lain harus menunggu. Dalam kondisi seperti itu, kita menyadari bahwa banyak hal yang selama ini kita anggap biasa ternyata bergantung pada sesuatu yang sederhana: air.
Manusia tentu memiliki kemampuan untuk mencari jalan keluar. Sumur bor dapat dibuat ketika sumber air di permukaan tidak lagi mencukupi. Sumber air baru dapat dicari. Ada pula masyarakat yang menemukan solusi sederhana dengan membeli selang dan mengalirkan air dari sungai menuju permukiman.
Di tingkat yang lebih luas, Kabupaten Purbalingga juga tidak seluruhnya mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama. Beberapa wilayah masih memiliki persediaan air yang cukup, sementara wilayah lain membutuhkan bantuan. Pemerintah melalui BPBD, bersama PMI, Baznas, dan lembaga lainnya, menyalurkan air ke daerah yang membutuhkan.
Bantuan semacam itu tentu berarti bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan. Namun bantuan air pada dasarnya adalah cara untuk memenuhi kebutuhan ketika sumber air tidak mencukupi. Ia menyelesaikan kebutuhan hari ini, sementara pertanyaan tentang hari berikutnya tetap ada.
Menariknya, kepedulian tidak hanya datang dari lembaga. Ada pula orang-orang yang menggunakan kemampuan dan sumber daya pribadinya untuk mengirimkan air kepada masyarakat yang membutuhkan. Di tengah kekeringan, masyarakat ternyata memiliki cara masing-masing untuk bertahan dan saling membantu.
Di sinilah kekeringan memperlihatkan dua sisi manusia.
Di satu sisi, kita sangat rapuh.
Kita bisa memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan, teknologi, uang, pompa air, dan berbagai fasilitas modern. Tetapi ketika hujan berhenti selama berbulan-bulan, banyak dari semua itu tidak serta-merta membuat kita mampu menciptakan air.
Kita bisa mencari air lebih dalam. Kita bisa memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Kita bisa membeli air ketika persediaan berkurang. Tetapi pada akhirnya, kita tetap bergantung pada keberadaan air itu sendiri.
Di sisi lain, kekeringan juga memperlihatkan kemampuan manusia untuk beradaptasi. Ketika keadaan berubah, masyarakat mencari jalan keluar. Pemerintah bergerak, lembaga sosial membantu, individu ikut turun tangan, dan warga menemukan cara-cara sederhana yang mungkin tidak pernah terpikirkan ketika air masih tersedia dengan mudah.
Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar bagaimana kita bertahan pada musim kemarau.
Mengapa kita selalu baru memikirkan ketahanan ketika kesulitan sudah datang?
Kita mungkin tidak mengalami kekeringan seperti ini setiap tahun. Bahkan beberapa tahun bisa berlalu tanpa keadaan yang terasa begitu berat. Tetapi justru karena tidak terjadi setiap tahun, kita mudah melupakannya.
Padahal, jika siklus seperti ini kembali terjadi beberapa tahun kemudian, pertanyaan yang sama akan muncul lagi: dari mana air kita berasal, berapa lama persediaannya bertahan, bagaimana petani bertahan, bagaimana rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan apa yang dapat dilakukan ketika musim kering ternyata lebih panjang dari perkiraan?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita melihat lingkungan di sekitar kita.
Lahan hijau tidak selalu sebanyak dahulu. Pohon yang mampu membantu menahan dan menyimpan air juga memiliki peran yang sering baru kita sadari ketika air mulai sulit ditemukan. Bahkan sekitar sebulan lalu, kebakaran hutan terjadi di wilayah Desa Langkap. Di tengah musim yang sangat kering, melihat vegetasi terbakar tentu menjadi pengingat bahwa lingkungan yang seharusnya membantu menjaga keseimbangan air juga memiliki batas ketahanannya.
Kita tidak perlu menunggu kekeringan yang lebih panjang untuk mulai memikirkannya.
Mungkin yang dibutuhkan bukan hanya persediaan air ketika kemarau datang, tetapi juga persiapan ketika hujan kembali turun. Bagaimana air hujan dapat lebih banyak masuk ke tanah? Bagaimana lingkungan dapat menyimpan air lebih lama? Bagaimana sumber air desa dijaga? Bagaimana masyarakat dapat memiliki pilihan ketika satu sumber air mulai berkurang?
Karena hujan yang turun hari ini bukan hanya untuk kebutuhan hari ini.
Sebagian air harus menjadi persediaan untuk hari ketika hujan tidak turun.
Tiga bulan tanpa hujan di Adiarsa mungkin bukan peristiwa yang akan selalu terjadi setiap tahun. Tetapi pengalaman ini cukup untuk mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia ternyata memiliki ketergantungan yang sangat besar pada sesuatu yang sering kita anggap biasa.
Kita baru benar-benar menghargai air ketika harus memilih untuk apa air yang tersisa digunakan.
Dan mungkin itulah pelajaran paling sederhana dari musim kering kali ini:
kita tidak harus menunggu kekeringan berikutnya untuk belajar menjadi lebih siap.
Karena alam tidak selalu memberi tahu kapan ia akan menguji seberapa kuat kita bertahan.